Jakarta -
Penelitian kulit kacang yang dilakukan Nisrina Nuramalia Fathina, membuka fakta
bahwa banyak manfaat yang bisa diambil dari kulit kacang. Siswi kelas XII SMA
Kharisma Bangsa, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, ini menemukan setidaknya ada
tiga manfaat kulit kacang.
"Dari kulit kacang, saya menemukan tiga produk," kata Nisrina pada
Tempo, Jumat, 5 Juli 2013, saat ditemui di SMA Kharisma Bangsa. Hasil
penelitian perempuan 18 tahun itu mendapat penghargaan medali perak dalam ajang
International High School Environment Project Olympiad di Oswego, New York,
Amerika Serikat, pada 16-20 Juni 2013.
Ketertarikan perempuan berkerudung ini meneliti kulit kacang terinspirasi
setelah dia menyaksikan banyak orang yang menyia-nyiakan kulit kacang. Padahal
konsumsi kacang di Indonesia lumayan banyak. Berdasarkan penelusurannya, angka
konsumsi kacang secara nasional mencapai 1 juta ton per tahun.
Agar tidak terbuang percuma, Nisrina menjadikan kulit kacang sebagai objek
penelitian supaya bermanfaat. Anak bungsu dari dua bersaudara ini pun membaca
literatur guna mencari tahu apa yang terkandung di kulit kacang. Dari situ
dia mengetahui kulit kacang mengandung banyak mineral, seperti kalsium, fosfor,
potasium, iron, sodium, mangan, dan zink. "Kandungan mineral-mineral itu
bisa digunakan sebagai elektrolit," kata Nisrina.
Lewat Penelitian Kulit Kacang, Nisrina Ciptakan 3 Produk
Dalam melakukan eksperimennya, Nisrina menghaluskan kulit kacang menjadi
serbuk. Tiga gram serbuk kulit kacang itu lalu dicampur dengan 40 mililiter
aquades (air penyulingan yang tidak punya voltase). Campuran ini dipanaskan
dalam suhu 60 derajat Celcius. Setelah disaring dan airnya dicek
menggunakan voltmeter, ternyata terukur ada listrik 0,7 volt. "Air itu
bisa menyalakan kalkulator, bisa menyalakan lampu LED," kata Nisrina.
Produk kedua olahan kulit kacang adalah tabir surya. Ternyata, kata Nisrina,
cairan elektrolit kulit kacang bukan cuma menghasilkan voltase listrik, tapi
juga bisa menjadi produk kosmetik. Hipotesisnya dibangun dari dugaan bahwa
tanaman memiliki kemampuan absorbsi sinar ultraviolet. "Saya cek cairan
elektrolit itu pakai spektrometer, ternyata kandungan SPF-nya 137. Itu sebagai
tabir surya alias sunscreen untuk melindungi kulit dari cahaya matahari,"
kata dia. Sun Protection Factor (SPF) adalah zat pelindung kulit dari sinar
matahari.
Tidak berhenti sampai di situ, Nisrina juga menemukan produk ketiga. Dia
memanfaatkan sisa serbuk dari proses filtrasi antara bubuk kulit kacang dengan
aquades. "Itu kan ada sisa bubuk kacangnya, kalau dibuang mengotori
lingkungan.Serbuk itu saya manfaatkan untuk membuat papan," kata dia.
Caranya, serbuk kulit kacang dicampur dengan lem polivinil asetat dengan
perbandingan volume 2 : 1. Setiap dua ukuran volume bubuk kacang dicampur
dengan satu ukuran volume lem. Meski terbuat dari kulit kacang, papan yang
dihasilkan tak main-main. Berdasarkan uji di lab beton Fakultas Teknik
Universitas Indonesia, kemampuan papan ini setiap 1 sentimeter persegi bisa
menahan beban hingga 182 kilogram. Sementara kelenturannya setiap 1 sentimeter persegi
bisa menahan beban 17 kilogram.
"Ini bisa jadi papan alternatif," kata Nisrina. Bahkan, papan dari
kulit kacang ini mendapat pujian dari seorang arsitek asal Amerika. "Dia
bilang papan ini bisa menjadi isolator ruangan yang bagus." ujarnya.
Sumber: Tempo


0 komentar:
Posting Komentar